Tips Merencanakan Rumah
Lebih kurang 85 persen rumah tinggal yang berdiri sendiri (detached) mengalami perkembangan luas lantai bangunan. Ini aspek yang perlu diperhatikan karena rumah yang dirancang untuk tumbuh adalah “rumah rencana di atas rencana”.
Pengembangan rumah bisa dilakukan secara horizontal, vertikal, atau gabungan di antara keduanya. Apabila menyangkut lahan sempit, pengembangannya berarti ke arah vertikal.
Kalau ke arah vertikal, berarti ada persiapan pada fondasi. Fondasi-fondasi di tempat tertentu sudah disiapkan untuk menanggung beban dua lantai, sedangkan pada saat ini hanya dibangun satu lantai. Ke arah horizontal akan lebih mudah, tetapi berarti Anda harus memiliki lahan cukup untuk pengembangan.
Akan tetapi, ke arah mana pun bangunan rumah tinggal Anda dibangun, masalah rumah tinggal yang direncanakan berkembang ialah bagaimana supaya pada setiap tahap perkembangan rumah Anda terlihat rapi dan tidak ada masalah kebocoran di tempat yang akan menjadi “sambungan” bangunannya.
Contohnya, jika kita menyiapkan rumah tinggal akan berkembang ke atas, berarti Anda harus menyiapkan tempat untuk tangga. Di tempat tangga selalu ada lubang besar yang disebut sebagai lubang tangga. Saat lantai kedua belum dibangun biasanya terlihat ruang dengan bagian atas menganga.
Ini semua membutuhkan perancangan yang bertahap dan setiap tahap merupakan rancangan yang selesai. Artinya, wujudnya adalah wujud selesai pada tahap tersebut. Jangan tampak rumah ini belum selesai. Misalnya, kita membangun dalam tiga tahap yang memakan waktu lama. Lalu, setiap tahap berjarak lima atau sepuluh tahun, maka bisa dibayangkan kalau tidak tampak selesai selama waktu itu, tentu akan berdampak pada citra pemilik rumah.
Hal yang perlu diperhatikan adalah soal teknis, terutama pada hal yang tidak terlihat. Umpamanya soal fondasi tadi yang harus disiapkan untuk tahap selanjutnya, yaitu berupa tambahan lantai di atas, maka kita harus menyiapkan fondasi yang akan mampu mendukung bangunan dua lantai. Meskipun untuk selama lima tahun, misalnya hanya mendukung satu lantai, ada investasi yang harus kita benamkan selama itu.
Mengenai saluran dan instalasi lainnya harus dibuat sedemikian rupa agar kita tidak perlu membongkar instalasi yang lama bila kita melakukan perluasan. Lagi-lagi ada investasi yang ditanamkan.
Juga di setiap tahap tentu akan ada masalah tentang ventilasi dan pencahayaan alami. Ini yang harus diperhatikan dalam perancangan bahwa pada tahap- tahap awal proporsi pendanaannya akan lebih besar dari tahap berikutnya.
Meski demikian, merancang rumah tumbuh tetap cukup menarik dari segi pendanaan mengingat kita akan segera memperoleh tempat tinggal di satu pihak dan mengingat pula uang yang kita miliki akan terus menurun nilainya bila kita tidak segera membelanjakannya, di lain pihak.
Dari segi kepraktisan, rumah tumbuh akan memberikan kita efisiensi hidup karena rumah yang kita tinggali mengikuti kebutuhan yang pas sepanjang perjalanan hidup keluarga kita.
Kiat
Gunakan bahan finis dari bahan alam, seperti batu kali, kayu, atau bata agar pada saat pengembangan beberapa tahun kemudian kita tidak mengalami kesulitan mendapatkan bahan-bahan finis yang diperlukan.
Seandainya kita menggunakan bahan buatan, seperti keping keramik, kemungkinan besar kita tidak bisa mendapatkan lagi jenis dan warna yang sama seperti yang kita gunakan karena tidak tersedia lagi di pasar. Itulah sebabnya lebih baik jika kita menggunakan bahan alam yang selalu tersedia kapan pun.
Akan tetapi, sebaliknya bisa juga Anda memasukkan tema kronologis dalam rancangan Anda. Artinya, Anda justru ingin memberi finis dengan corak warna bahan yang berbeda di setiap tahap sehingga pada akhirnya rumah Anda bisa “bercerita” bagian mana yang dibangun pertama.
sumber: http://www.kompas.co.id
Makna Tanaman di Halaman Rumah
HALAMAN yang seluruhnya tertutup beton maupun keramik akan mematikan energi qi/chi. Dalam pandangan Feng Shui penghuni sulit memiliki keberuntungan bumi. Perlu diingat, tanah juga perlu bernafas. Dengan memberi cukup ruang untuk berinteraksi dengan udara, keberuntungan hidup lebih baik dipercaya akan mendatangi penghuninya.
Udara akan bebas mengalir sehingga suasana ruangan menjadi segar dan lebih hidup. Dalam pemahaman ilmu arsitektur pun, rumah tanpa tanaman tak memiliki nilai keasrian. Dengan begitu, citra rumah yang baik dan nyaman tak bakalan muncul.
Konsep Feng Shui, menjabarkan fungsi dan kegunaan beberapa jenis tanaman. Fungsi ini menjadi bentuk penilaian baik dan buruk dari jenis tanaman tertentu. Tanaman bernilai ‘baik’ sering diartikan dapat mengundang hawa rezeki agar bersedia singgah ke dalam rumah. Sebaliknya, tanaman berkriteria ‘buruk’ diyakini dapat mencelakakan penghuninya. Karenanya, beberapa jenis tanaman menjadi pantangan dan dijauhkan dari lingkungan rumah.
Beberapa jenis tanaman yang dianggap memiliki kandungan makna ‘baik’ di antaranya, Srikaya: punya harapan untuk menjadi kaya raya, Sri Rejeki: berharap punya rezeki yang baik, Delima: sangat baik untuk nilai keharmonisan serta keakraban suami istri dan keluarga.

Palem Merah/Palem Raja: meningkatkan kedudukan dan rezeki, Palem Botol: mengacu fungsi botol, filosofinya rezeki yang masuk bisa tersimpan dengan baik, Bambu: lambang panjang umur dan keteguhan jasmani-rohani, karena sifat bambu ulet dan mampu mengatasi perubahan cuaca.
Kelapa Gading: dalam perjodohan dan kehidupan mengandung inti kehidupan kekal, Cempaka Mulya: memperoleh berkat dan karunia Yang Maha Kuasa, Wijaya Kusuma: memperoleh kejayaan hidup, keharuman nama serta berkat Tuhan, Melati: nilai kesucian hati, Cemara/Pinus: umur panjang dan keteguhan jiwa, Teratai: lambang kesucian yang tak tercemari dan keharmonisan hidup.
sumber: www.kr.co.id
Mengatasi Gangguan Rayap di Rumah Kita
Berapa banyak keberuntungan yang harus Anda miliki untuk terhindar dari gangguan rayap atas rumah atau bangunan hunian milik Anda? Mungkin tak ada yang tahu. Tetapi, yang jelas Anda hanya butuh satu kesialan saja untuk menerima kenyataan bahwa rumah Anda digerogoti sampai habis oleh binatang gigih itu.
Ya, rayap sudah begitu buruk citranya bagi pemilik rumah dan bangunan karena kerugian yang diakibatkan oleh mereka. Padahal, rayap adalah binatang yang amat berguna untuk menghancurkan benda-benda organik di permukaan tanah. Menurut para ahli rayap, 95 persen dari 2.500 jenis rayap lebih yang ada di dunia ini berguna bagi kelangsungan ekosistem tanah. Namun, sebenarnya tidak ada rayap yag merugikan manusia kalau dicermati lebih mendalam karena rayap eksis terlebih dahulu daripada rumah tinggal di alam ini.
Rumah baru datang kemudian dan menempati lahan-lahan tempat mencari makan mereka, sementara rayap-rayap harus terus melangsungkan kehidupan mereka. Rayap-rayap pekerja yang bekerja sangat efisien tidak bisa membedakan kayu yang berharga dan tidak berharga. Mana pula membedakan dengan istana.
Sebenarnya kita mudah mengatasi masalah rayap dengan menghindari penggunaan sasaran utama rayap, yaitu kayu dan benda-benda yang mengandung selulosa lainnya, sebisa mungkin. Namun, apa boleh buat, kecintaan manusia akan keindahan, kemudahan, dan kenyamanan kayu sejauh ini masih cukup tinggi. Kalau tidak, mengapa jutaan hektar hutan ditebangi setiap tahunnya?
Selama manusia masih suka menggunakan kayu yang merupakan makanan alamiah rayap untuk membangun dan menghias huniannya, selama itu pula risiko gangguan rayap terbuka. Pada hakikatnya kita hanya bisa mengurangi kans datangnya gangguan tersebut.
Mengatasi dengan menggunakan pestisida yang ditebarkan ke bawah tanah jelas akan terhambat dengan semangat perlindungan lingkungan hidup (racun untuk rayap, racun untuk kita juga akhirnya). Bayangkan kalau ratusan ribu rumah tinggal di suatu lahan yang tidak begitu luas seperti kota Jakarta ini semua menggunakan zat antirayap yang langsung disuntikkan ke dalam tanah. Lagi pula, masih ada jenis rayap kering (jenis kalotermidae), jamur pelapuk kayu (Basidiomycetes), dan bubuk kayu kering (ordo coleoptera) yang tidak datang dari bawah tanah.
Perancangan yang memerhatikan soal rayap barangkali bisa membantu mengurangi kerusakan yang diakibatkan oleh gangguan rayap.
Tips
Minimalkan penggunaan kayu di bangunan hunian Anda di bagian yang tidak terlihat atau sulit untuk diinspeksi. Beberapa tahun belakangan ini banyak usaha yang dilakukan yang berhasil untuk mencari bahan pengganti kayu yang layak, bahkan dalam beberapa hal lebih baik.
Bahan rangka penunjang plafon dan struktur rangka atap, yang umumnya tak terlihat umpamanya, gunakanlah dari besi yang khusus dibuat untuk bagian-bagian struktur rumah tersebut. Penggunaan kayu hanya untuk bagian yang terlihat dan terpapar (exposed) saja karena toh kita menggunakan kayu terutama untuk dinikmati keindahan warna dan kenyamanan dalam sentuhan teksturnya.
Kalaupun Anda tetap ingin menggunakan kayu di tempat yang normalnya tidak terlihat, sebaiknya dibuat akses dan fasilitas pemeriksaan berkala. Kuncinya adalah kalaupun ada gangguan rayap, bila segera terdeteksi, tentu akan lebih mudah dan lebih murah untuk memperbaikinya karena kehancuran kayu karena rayap tidak terjadi dalam semalam. Tentu saja dalam hal ini Anda harus aktif mengawasi secara berkala bagian rumah Anda yang menggunakan kayu. (Gunakan tenaga pemeriksa profesional dan buatlah jadwal pemeriksaannya.) Jangan menggunakan kayu lalu melupakannya dengan mengharapkan tidak akan terjadi apa-apa selamanya.
Hindari sama sekali penggunaan kayu untuk daerah lembab dan basah seperti kamar mandi basah atau di tempat yang akan terkena hujan. Atau Anda harus menggunakan jenis kayu dengan tingkat keawetan tinggi (sangat mahal) dan tetap dengan treatment antiserangan rayap. Khusus untuk lantai kayu, gunakan juga kayu dengan keawetan kelas satu (antara lain kayu jati). Juga jangan sekali-kali menggunakan alas kayu lapis (plywood) untuk perataan landasan lantai kayu.
Dalam kondisi apa pun, kayu yang Anda gunakan harus diawetkan dan dikeringkan. Pengawetan yang efektif adalah dengan menggunakan tangki tekanan udara karena dengan alat ini bahan pengawet bisa masuk ke dalam kayu lebih dalam. Memang tambah biaya lagi, tetapi langkah ini merupakan investasi yang berharga. Filosofinya adalah, kita harus tetap menganggap rayap sebagai binatang yang berguna dan bukan hama. Toh kita sempat mengagumi juga kehidupan koloni rayap yang berkasta-kasta dan terorganisasi dengan ketat.
Rayap tetap ada di sekeliling rumah kita, tetapi tidak mengganggu di tempat-tempat yang tidak kita inginkan. Kita hanya mengusahakan untuk hidup berdampingan dengan mereka. Bahkan, mungkin di satu saat rayap bisa menjadi salah satu jalan keluar bagi persoalan sampah di kota-kota besar yang akut belakangan ini, di samping cacing dan bakteri.
sumber: http://www.kompas.co.id
-
Terkini
- Model Pagar
- Posisi Pagar sebagai Seni Arsitektur
- KONSEP RUMAH JOGLO UNTUK RESTAURAN
- SPONSOR (Klik)
- Yang Mungil nan Asri
- Taman di Dalam Rumah Bagaikan Oasis di Tengah Gurun
- Menata Rumah Tipe-36 Jadi Nyaman
- Rumah Type 55 m2 Bpk Setyo Hartono di Solo.
- Perencanaan Rumah Type 240/180 Dilahan Pojok (Hooks)
- Tips Merencanakan Rumah
- Makna Tanaman di Halaman Rumah
- Mengatasi Gangguan Rayap di Rumah Kita
-
Taut